Sabtu, 27 Agustus 2016

Drama Ta’aruf



Dialog yang selalu pemuda itu ingat ketika dia mengutakan niat untuk menikah.
Guru Ngaji  :”, akhi, antum sudah siap dan mntab untuk menikah?’
Pemuda       : “ insyaallah akh”
Guru Ngaji  :” kalau antum serius antum segera isi dan buat data diri antum yang lengakp dan jelas”
Pemuda      : “siap”.

Dialog sederhana ini akan selalu kuingat. Lewat guru ngajinya pemuda itu belajar tentang kesabaran dan keikhlasan. Memang jalan meuju pernikahan adalah jalan panjang. Jangan anggap nikah itu pendek.

Tiga pekan setelah pemuda itu membuat data pribadi, foto di studio agar kelihatan keren. Akhirnya dia dapat telpon dan sms agar dia mengambil data akhwat calon untuk ta’aruf. Perjuangan ini dimulai. Data akhwat pertama langsung dia baca dan dia pilih. Sayangnya setelah dia pilh ternyata orang tua akhwat kurang setuju karena dia belum lulus. Sungguh ini adalah cobaan pertama dan tamparan yang cukup telak bagi seorang pejuang dalam menikah. Tapi hidup tak selebar daun kelor. Akhwat tak sekedar hanya ia seorang. Pemuda itu harus iklhas dan sabar. Kalau kata lagu sekarang itu “sakitnya tu disini” sambil pegang dada.

Perjuangan tak harus berhanti disana. Dia harus maju akhirnya dia dapat lagi biodata akhwat tetapi dia belum sreg akhirnya aku kembalikan lagi. Sekarang malah dia yang menolak. Tapi ini bukan balas dendam atas penolakan pertama. Ini memang dari hati dan hasil konsultasi. Setelah menungggu lama, akhirnya datang juga biodata akhwat. Sungguh ini harus benar-benar memilih yang terbaik.  Akhirnya dia pilih akhwat terbaik dari pucak bukit. Akhwat ini satu angkatan dan satu kampus. Tapi tak pernah ketemu sungguh lucu dan mengejutkan. Setelah sreg dia konsultasi dengan guru ngajinya dan akhirnya disepakati bahwa tanggal untuk ta’aruf.

Momen ini merupakan momen yang menegangkan. Guru ngajinyai memberitahu tempat dan waktunya. Sayang dia harus datang sendiri karena guru ngajinya tak menemani. Sungguh ini adalah tes mental dan pengetahuan. Dia paham karena peristiwa ini juga belum dialami guru ngajinya jadi wajar kalau beliau menyuruhnya datang sendiri. Hal menarik yang selalu menjadi kriteria. Data pemuda itu kata akhwat itu terlalu simple dan membingungkan. Mungkin karena ada kata-kata yang belum aku pahami. Tapi ada pesan singkat yang mampu menjadi acuan. Ada 3 hal kriterianya buat calon istri. Satu, akhwat jogja, kedua, sholihah dan ketiga menerima aku apa adanya. Memang simpel dan padat tetapi berefek kepada masa depan pemuda itu.

Dalam sesi ta’aruf pemuda itu diberondong banyak pertanyaan. Akhwat tersebut tidak sendiri dia bersama guru ngaji dan kakak laki-lakinya. Sungguh pemuda itu bagai bertanding dengan 3 orang. Tapi dasar pemuda itu orang yang cuek dan siap mental. Pemuda itu menjawab dengan baik dan penuh optimisme. Akhirnya dengan segala jawaban dan argumentasi akhirnya selesai sudah. Tapi ada pesan khusus bahwa pemuda itu harus menjelaskan kriteria kepada orang tua. Agar orang tua mampu melihat dan tidak kaget akan latar belakang calon istri. Dan juga jawaban akan lanjut tidak setelah 1 pekan.

Cerita bersambung ya. Insyaallah akan ditulis lagi. Salam Bahagia.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar