Selasa, 29 November 2011

FIQH DAKWAH 1 BAB V QADHAYA ASASIYAH DALAM DAKWAH MENJAGA ORISINALITAS


Agar harakah terjamin berada di jalan yang benar menuju sasaran, maka ia harus menjaga dan memelihara orisinalitasnya. Sebab sekecil-kecilnya penyimpangan atau berkurangnya orisinalitas pasti akan melahirkan penyimpangan yang semakin besar sejalan dengan kesinambungan pertumbuhan dan kekuatan yang terus semakin berkembang. Hal ini dapat menyeret harakah semakin jauh dari jalannya yang benar dan semakin menjauhkan tercapainya sasaran harakah.[1]

Jika dakwah yang dibawa ikhwan adalah hanya dakwah islam sebagaimana yang dinyatakan pendirinya, berarti orisinalitas dan kesinambungannya dapat terwujud hanya dengan islam. Menjaga orisinalitas berarti berpegang teguh kepada Islam dan tidak menyalahinya baik dalam teori maupun prakteknya. Imam hasan Al bana selalu menekankan agar jamaah beriltizam dengan Islam, Al-Qur’an dan Sunnah serta melangkah sesuai dengan sirah Rasulullah SAW ketika beliau menegakkan daulah Islamiyah pertama. [2]

Menurut Imam Hasan Al Bana, ada beberapa hal yang harus dijaga orisinalitasnya, yaitu :

1. Asas ‘aqidah, quwwah ( kekuatan) dan wihdah (persatuan).

Sasaran jamaah adalah tegaknya dien Allah di bumi dan daulah Islamiyah ‘Alamiyah yang dipimpin system khalifah. Maka sasran ini tidak akan tercapai jika da pemahaman yang salah terhadap Islam, dengan kata lain ada kerancuan ‘aqidah dan penyimpangan dari apa yang dibawa Nabi Muhammmad SAW. Oleh karena itulah orisinalitas pemahaman (keshahihan, kelurusan, dan keuniversalannya meskipun waktu dan kondisi telah berubah. Pemeliharaan terhadap orisinalitas pemahaman harus dibarengi dengan pemeliharaan orisinalitas sasaran dari berbagai perubahan dan penyimpangan. Sasaran jamaah yang berupa tegaknya dien Islam dan berdirinya Daulah Islamiyah ‘Alamiyah tidak boleh difokuskan pada tegaknya satu pemerintahan di setiap kawasan tanpa ada koordinasi dan tidak menjadi bagian dari strategi umum untuk mewujudkan sasaran besar. Sebab tegaknya pemerintahan Islam regional yang terpecah-pecah akan mudah dihancurkan oleh musuh-musuh Islam.

2. Perhatian terhadap Tarbiyah dan aspek ruhaniyah.

Tarbiyah bagi seseorang atau jama’ah ibarat ruh di dalam jasad. Imam Hasan Al Bana menegaskan individu muslim yang multazim dengan sifat-sifat mukmin adalah unsure asasi di dalam harakah dan bina’ serta di dalam mewujudkan sasaran. Dialah yang akan menegakkan baitul muslim, mujtama’ul muslim, hukumah Islamiyah dan Daulah Islamiyah. Jika unsure asasi ini tegak dan kokoh, maka bangunan dengan segala tahapannya akan tegak dan kokoh pula. Oleh karena itu Imam hasan Al-Bana menentukan simat dan sifat yang harus diiltizami oleh setiap individu muslim yakni ‘amal yang termasuk dalam arkanul bai’ah. Sifat yang dmaksud

3. Beriltizam dengan jalan dakwah dan tahapan-tahapannya.

4. Penjagaan maksimal terhadap hubb (kecintaan) dan ukhuwwah (persaudaraan).

5. Penekanan terhadap aktifitas produktif dengan tenang dan tidak boleh terkalahkan oleh kepentingan pribadi.

6. Penjagaan dan penataaan wujud prinsip syura, sehingga dapat menelorkan hasil yang diharapkan.

7. Pemeliharaan terhadap sifat takamul (integral) dan I’tidal (proporsional)

PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN

Untuk mewujudkan cita-cita besar yakni tegaknya dien Islam dengan berdirinya khilafah Islamiyah yang tercermin dalam tegaknya Daulah Islamiyah ‘Alamiyah, maka amal islami yang dialukan harus berjalan sesuai dengan takhthith (perencanaan) yang teliti, tidak boleh asal –asalan, spontanitas atau reaksioner. Selanjutnya amal islami melakukan evaluasi seluruh pelaksanaan program pencapaian sasaran yang telah digariskan.

Di setiap pemerintahan ada satu departemen atau badan setingkat yang menangani masalah perencanaan. Badan perencanaan ini mempiliki beberapa tugas diantaranya :

1. Menentukan sasaran, membagi kembali dalam beberapa sasaran dan menentukan skala prioritasnya.

2. Mengkaji kondisi yang sedang berkembang, mengetahui segala potensi yang dimiliki serta potensi apa saja yang sudah dan harus dipenuhi.

3. Menentukan program & langkah dalam mewujudkan setiap sasaran, menentukan sarana prasarana dan personil pelaksananya.

4. Menentukan materi yang cocok untuk sempurnanya pelaksanaan, membuat asumsi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi yang kadang- kadang mempengaruhi pelaksaan program dan cara menghadapinya serta menentukan alternative-alternatifnya.

5. Melakukan perombakan unsure terkait termasuk bidang perencanaan.

6. Menentukan pengawas yang terdiri dari kalangan pakar dan orang-orang yang berpengalaman dalam bidangnya untuk menjamin jalannya pelaksanaan berada dalam jalan yang benar, tanpa ada penyimpangan.

Catatan di Sekitar Perencanaan.

1. Dalam membuat perencanaan dakwah harus mempertimbangkan tiga factor yakni semakin banyak dan beraneka ragamnya langan dakwah dan dan cakupan serta bobot yang semakin berkembang.

2. Karena besarnya sasaran yang akan dicapai dan waktu yang lama, maka perencanaaan yang disusun tidak hanya terbatas untuk waktu tertentu saja. Hal ini sangat membantu dalam melakukan persiapan lebih awal dalam rangka memenuhi tuntutan jangka panjang.

3. Terdapat perbedaan besar antara perencanaan dakwah dengan perencanaan dalam lembaga umum atau pemerintahan. Terkadang membuat perencanaan dalam bidang materi lebih mudah karena kemungkinan-kemungkinannya dapat di perkirakan secara statistik. Sedangkan lapangan dakwah terus menerus mengalami perubahan karena berinteraksi dengan jiwa dan hati manusia. Hati manusia sepenuhnya berada di dalam gengggaman Allah. Maka melakukan perencanaan adalah usaha melaksanakan perintah Allah sedangkan keberhasilan dan kemenangan berada di tangan Allah.

Pengembangan dan Pembaharuan.

Pengembangan dan pembaruan adalah dua hal yang sangat diperlukan. Rasulullah SAW swlalu mendorong umatnya untuk meningkatkan kualitas, cara kerja dan sarana hidup serta memaksimalkan potensi alam.

Dan Ia telah menundukkan untuk kamu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya “ (Al-Jatsiyah : 13).

Pengembangan, pembaruan dan pemanfaatan hal-hal baru harus terkendali oleh kaidah-kaidah yang bersumber pada nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, setiap aktifis dakwah harus memahami setiap penemuan baru di dalam lapangan gerakannya dan memanfaatkannya untuk kelancaran jalannya program. Bahkan penemuan-penemuan baru harus diusahaklan untuk mengembangkan dan memperkuat gerakan. Secara ringkasnya prinsip Islam iu tetap sedangkan alat pencapaiannya dapat diperbarui terus.

KESATUAN PANDANGAN

Mewujudkan persatuan dan kesatuan pandangan kaum muslilmin merupakan salah satu qadhiyah paling penting dalam gerakan Islam. Wihdah (persatuan) itu lambang kekuatan, sedangkan tafarruq (perpecahan lambang kelemahan dan jalan menuju kegagalan. Musuh-musuh Islam berusaha sekuat tenaga menyebarkan benih perpecahan dan pertentangan di antara kaum muslmin, khususnya di antara para penguasa.

Kenyataan memang memprihatinkan. Setiap usaha mewujudkan persatuan kaum muslimin melalui pemimpin-pemimpin formal selalu kandas dan membentur kegagalan. Karena itu kita harus berusaha keras mewujudkan persatuan kaum muslimin dari basisnya. Konsekuensinya kita harus mewujudkan persatuan melalui inidividu-individu bangsa muslim di setiap kawasan Islam, kemudian bangsa-bangsa muslim itu dipersatukan denagn mendesak masing-masing pemerintahnya supaya mewujudkan persatuan dan menghilangkan pertentangan dan perselisihan.

Kesatuan di Dalam Satu Kawasan

Salah satu strategi musuh untuk mmemeca belah rakyat muslim adalah dengan mengekspor ideology sesat dan membentuk partai politik berdasar ideology tersebut. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kursi dalam pemerintajhan dan agar ideology tersebut dijadikan alternative bagi syariat Islam. Jalan pertama menyatukan pandanagan setiap rakyat muslim adalah dengan menghidupkan aqidah Islamiyah di dalam diri dan membangkitkan keimanan di dalam hati

Jama’ah-Jama’ah Islamiyah di Dalam Satu Kawasan.

Ada fenomena dalam sebuah jama’ah terdapat beberapa kelompok yang memiliki sudut pandang yang berbeda. Ada Sekelompok orang yang memfokuskan aktifitasnya kepada masalah-masalah yang berkaitan dengan aqidah tauhid, ibadah,dll. Ada pula yang memfokuskan perhatiannya pada masalah jihad. Ada yang menempuh jalan sufi, bahkan ada yang mengikuti konsep orang-orang kafir untuk mendangkalakan aqidah kaum muslimin. Sementara itu adapula yang berusaha keras untuk mendirikan Daulah Islamiyah. Keanekaragaman serta bermacam-macamnya sudut pandang ini lah ayng menyebabkan kadang-kadang terjadi bentrokan.

Bagaimana sikap ikhwanul muslimin ?

’Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah teman yang sangat setia “(Fushilat : 34)

Bertolak dari ayat di atas, Imam Hasan Albana berkata: “ Jadilah kalian bersama manusia laksana sebatang pohon. Ia dilempari dengan batu dan mengembalikannya dengan buah.” Selain itu kita bekerjasamadalam hal-hal yang kita sepakati dan saling menghargai terhadap hal-hal yang kita berbeda.

Sekitar Perbedaan Dalam Masalah Furu.

Imam Hasan Al bana mengatakan bahwa perbedaan masalah furu’ memang tidak dapat dihindarkan akan tetapi perbedaan ini tidak akan menjadi penghalang persatuan selama ada ikatan hati, cinta kasih dan saling ta’awun dalam kebenaran.

Kewajiban Kita Terhadap Itu Semua.

Menjadi keharusan kita untuk melanjutkan apa yang telah dirintis oleh jamaah untuk mewujudkan sasarannya yakni tegaknya dien Islam di bumi denagn selalu taat pada asas-asas Islam. Ketaatan ini adalah sarana untuk memperkuat ikatan kaum muslimin. Selain itu kita juga harus menghindari setiap hal yang menyebabkan buruknya hubungan antara kita dan aktifis dakwah yang lain. Kemudian mendorong pemimpin jamaah untuk melakukan koordinasi, saling memahami. Penyatuan ini memerlukan tenaga dan kesungguhan


[1] Syaikh Mushthafa Masyhur, Fiqh Dakwah Jilid 1 (Jakarta : Al-I’tishom), 2000, hlm. 304.

[2] Ibid

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar