Selasa, 24 April 2018

PRINSIP DAN PENYIMPANGAN GERAKAN ISLAM (Part 8)

SEKITAR UJIAN DAN COBAAN
Karakteristik ujian :
Ujian merupakan sunnah dakwah.
Guna ujian : penempaan, pembersihan, dan penyaringan orang orang yang benar dan orang-orang yang dusta.
Sebab: kemenangan membawa amanah cukup berat dan memerlukan persiapan orang-orang yang tekun dan tidak melakukan penyimpangan sebelum memperjuangkannya.
Ayat Al Qur’an : Al Ankabut: 1-3, Albaqarah: 214, Albaqarah: 155.  Baca Halaman : 193-195.
Penyimpangannya :
Kesalahan dalam memandang ujian
1.    Anggapan bahwa ujian bukan hal yang wajar terjadi di atas jalan dakwah atau menganggapnya sebagai akibat dari kesalahan dari pihak pimpinan jamaah.
Kemudiaan kekeliruan anggapan ini diekspos ke tengah shaf. Padahalsebenarnya dengan adanya ujian, berarti kita tengah berada di jalan para du’at karena Rasulullah SAW serta para rasul terdahulu juga mengalami penyiksaan dan gangguan.

2.    Guncangnya kepercayaan terhadap jalan dakwah.
Misal menimbulkan pemikiran bahwa “ seandainya kita berada pada pihak yang benar, pasti Allah akan menolong kita dan musuh Allah pasti tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kita.
Contoh nyata: pada tahun 1965 algojo gamal abdul naser yg bertugas menyiksa ikhwan mengatakan hal mirip di atas”.

3.    Anggapan bahwa ujian ini sebenarnya dapat dihindaridengan sedikitbertindak bijaksana dan taktis/diplomasi dgn musuh. Tetapi karena para penanggung jawab tidak pernah berdiplomasi sama sekali akhirnya terjadilah ujian ini.

4.    Berlindung dan mendukung orang-orang zalim serta mengatakan keluar dari jamaah dan menyerangnya karena ingin menghindariancaman pemenjaraan dan penyiksaan.
Jika ada yang tidak sanggup menahan derita siksaan boleh mengambil sikap demikian dengan syarat hatinya tetap beriman dan komitment dengan jamaah.Ini merupakan rukhsoh (pengecualian) bukan ‘azimah (prinsip umum). Khiththah dasarnya adalah bersabar dan konsisten dalam perjuangan.

5.    Bila ujian mengakibatkan berhentinya perjalanan dakwah.

6.    Kelemahan yang terdapat pada sebagian orang yang menduduki jabatan penting, pada saat terjadinya cobaan sebagai alasan untuk menuduh jeleknya seleksi dari pimpinan. Tidak ada seleksi yang ketat, tidak obyektif,dsb.


7.    Tidak mengambil hikmah Allah dari penempaan serta seleksi yang terkandung dalam ujian.

8.    Tidak memaklumi orang yang tidak tahan menanggung kerasnya siksaan dan orang yang lemah, tetapi masih pada pendiriannya.


9.    Terlalu berlebihan perhatian kita hanya untuk menghentikan gangguan  dan penyiksaan terhadap sesama anggota dengan bentuk apa saja. Walaupun dengan mengorbankan dakwah dan amal islami.
Misal : Merunduk runduk / merengek rengek pada orang zalim dan membuat kesepakatan yang merugikan dasar dakwah.

10.    Menganggap ujian sebagai pukulan keras yang mematikan/melumpuhkan.
Misal : syahidnya para syuhada dianggap merugikan.Secara horizontal penyebaran dakwah mungkin terhambat, tapi secara vertikal diganti dengan kemenangan dalam bentuk tarbiyah, pembinaan, penempaan dan pembersihan jiwa.

11.    Menghentikan dakwah pada Allah dan gerakan dakwah setelah mengalami ujian agar tidak  mendapat siksaan baru.

12.    Mempersempit aktivitas akibat adanya cobaan kepada masalah yang tidak menyinggung musuh dan penguasa.

13.    Menjangkitnya penyakit keputus asaan dengan sebab ujian, melemahnya optimisme, pudarnya kepercayaan pada Allah dan dukungannya pada masa depan  dan tujuan-tujuan yang akan kita wujudkan.
Hasan Albana memperingatkan kita tentang faktor-faktor keberhasilan yang dapat menundukkan rintangan :
1.    Dakwah kita dakwah menuju Allah, Dakwah yang paling mulia.
Kita menyeru pada fikrah yang paling kuat yakni fikrah Islam. Kita menyuguhkan pada manusia syariat yang paling adil yakni syariat Allah.
QS, Albaqarah : 138
“ Shibghah Allah, siapakah yang lebih baik shibghahnya? Daripada shibghah Allah ?”
2.    Dunia memerlukan dakwah ini            
3.    Alhamdulillah kita bebas dari ambisi pribadi, jauh dari kepentingan pribadi. Niat kita semata karena Allah untuk kebaikan manusia dan mencari ridhonya.
4.    Kita selalu menantikan dukungan dan pertolongan Allah. Siapa yang ditolong Allah maka tidak ada yang dapat mengalahkannya.

Senin, 23 April 2018

PRINSIP DAN PENYIMPANGAN GERAKAN ISLAM (Part 7)

JALAN DAKWAH, ANTARA KEPERCAYAAN DAN KERAGUAN
Perjuangan Islam dan perjalanan dakwah seorang ikhwan dalam jama’ah sangat menentukan. Karena akan mengorbankan banyak hal. Maka seorang ikhwan harus :
    Punya kemantapan hati dan kepercayaan penuh.
    Tetap berpijak pada jalan dakwah yang benar dalam jama’ah islam.
    Tetap berada dlm garis kepemimpinan saudaranya agar ia dapat bergerak mantap dan taat.
    Bekerjasama dengan ikhwan.
    Menyatu dalam shaff
    Percaya pada kemampuan dirinya dengan pertolongan Allah.
Urgensi kepercayaan (tsiqah) :
Musuh musuh islam selalu berupaya merusaknya dengan tasyik (keragu-raguan), melempar tuduhan palsu.
Kritik  Tasyik.
Ada 2 macam kritik :
•    Konstruktif :
    Memiliki gaya /uslub
    Memiliki kode etik /adab
    Punya saluran tersendiri di mana kritik harus disampaikan.
•    Destruktif:
    Tidak proporsional
    Tidak memberikan kesan cinta kebaikan dan kemaslahatan.
    Umumnya dibarengi kebohongan dan tuduhan palsu.
    Biasanya timbul dari orang-orang yang ambisius dan punya niat buruk.
Sikap kita yang baik adalah:
•    Menerima nasehat dan mengambil manfaat dari kritik yang membangun.
•    Menolak tasyik dan kritik destruktif.
•    Tidak mendengarkan, menggubris dan meladeninya dengan cacian.
Penyimpangannya adalah :
Terpengaruh atau meladeni mereka sehingga memalingkan dari amal usaha yang serius dan konstruktif di bidang dakwah.  (QS. Fushilat :34)
Hasan Albana mengatakan :
“Bersikaplah kamu seperti pohon, orang-orang melemparinya dengan batu. Tetapi pohon melemparinya dengan buah”.
Apabila ada ikhwan yang ragu akan sesuatu maka hendaknya ia segera meminta penjelasan. Tidak melempar kesangsian dalam shaf. (alhujurat :5)
Jika ada tuduhan-tuduhan palsu, hal terbaik adalah mendiamkan tuduhan itu. (baca hlm. 189-192).

Selasa, 03 April 2018

PRINSIP DAN PENYIMPANGAN GERAKAN ISLAM (Part 6)


LANGKAH OPERASIONAL DAN SASARANNYA.
Bentuk-bentuk penyimpangannya :
1.      Mengikuti pola partai politik
Mendudukkan politik sebagai panglima dalam cara kerja. Menggeser pembinaan penyebaran dakwah dan jihad, serta menitikberatkan pada kuantitas bukan kualitas.
2.      Tidak memperhatikan faktor tarbiyah.
Akibatnya:
Rendahnya tingkat pemahaman individu.
Tidak melahirkan individu sesuai dengan tingkatan tanggungjawabnya.
Sebab-sebab pengabaian terhadap tarbiyah:
a.       Mengutamakan segi politik dan semua konsekuensinya seperti kesibukan dll daripada tarbiyah.
b.      Tidak mempersiapkan para pembina (instruktur)secukupnya untuk penuhi kebutuhan anggota.
c.       Mengubah usrah menjadi forum ilmu pengetahuan dan belajar semata. Padahal seharusnya sebagai wadah pembinaan dan pembentukan serta perbaikan akhlak.
d.      Melupakan tarbiyah karena konsentrasi dengan kesibukan  tertentu.
3.      Mengabaikan unsur persatuan dan potensi jalinan antar individu sebagaimana jalinan antara muhajirin dan anshor.
4.      Mengabaikan pemeliharaan potensi struktur jamaah dan komitment keanggotaan.
Misalnya terlalu longgar dalam menetapkan syarat-syarat keanggotaan, kurang efektif dalam memilih pemegang tanggung jawab.
5.      Penyimpangan yang berkaitan dengan masalah jihad dan persiapannya.
Bentuk penyimpangan jihad:
v  Kurang perhatian dan persiapan
v  Kemewahan dan kemegahanmenyebabkan enggan berjihad,dst (hlm. 173).
6.      Faham kedaerahan
Membatasi kegiatan jihad di dalam negeri mereka (penduduk mereka).
7.      Menerima prinsip dan ideologi sekuler.
8.      Mendorong jamaah untuk didominasi orang lain.
9.      Berpartisipasi dalam pemerintahan yang tidak menjalankan hukum Allah.
10.  Berkoalisi dengan musuh dengan mengorbankan prinsip dan tujuan.
11.  Mengabaikan prinsip syuro dan nasihat.
12.  Mementingkan formalitas bukan esensinya serta mengutamakan perdebatan dan diskusi daripada kerja.
13.  Reaksioner tanpa perencanaan.
14.  Mengarah pada pertarungan sampingan dan persoalan far’iyah.
15.  Memisahkan diri dari masyarakat.

Senin, 02 April 2018

PRINSIP DAN PENYIMPANGAN GERAKAN ISLAM (Part 5)


Bentuk penyimpangannya :
1.      Meremehkan amal jama’i
Menganggap cukup dengan amal fardhi (gerakan individu).
2.      Banyaknya jamaah dan pemimpin
Cara memilih jamaah : perhatikan metode perjuangannya hlm. 159.
3.      Friksi friksi /blok2 dalam jamaah.
Atau membuat semacam jamaah tandingan.
4.      Bergantung pada individu yang lebih kuat.
Lebih banyak bergantung pada individu tertentu daripada pimpinan dan jamaah.
5.      Keluar dari jamaah
6.      Tidak memenuhi arkanul baiah
7.      Perasaan lebih tinggi.

SEKITAR PERSOALAN PEMAHAMAN
(Pemahaman Islam secara menyeluruh).
Bentuk penyimpangannya :
1.      Mengadopsi pemikiran yang jelas- jelas bertentangan dengan pemahaman yang benar tentang islam, Al Qur’an, Sunnah Rosul serta persoalan yang telah ditetapkan kerangkanya.
2.      Setiap upaya yang bermaksud mengebiri nilai assunah yakni menggunakan Al Qur’an saja.
3.      Memaksakan semua anggota jamaah untuk mengikuti pendapat dalam masalah furu’ yang mempunyai beberapa pendapat.
4.      Memperbesar masalah juz’iyah dan Far’iyah dengan mengorbankan masalah kulliyat (prinsip).
Hasan AlBana mengatakan : “ hendaknya kita bekerjasama dalam hal yang disepakati dan saling tenggang rasa dalam masalah yang masih diperselisihkan.”
5.      Pengebirian islam dalam pelaksanaannya
Yakni membatasi jamaah membicarakan islam di sekitar masalah yang tidak menyinggung penguasa misal ibadah dan amal-amal kebaikan, meninggalkan perundang undangan, pemerintahan, jihad dan masalah memberantas kemungkaran.

Minggu, 01 April 2018

PRINSIP DAN PENYIMPANGAN GERAKAN ISLAM (Part 4)


PENYIMPANGAN DARI SASARAN UTAMA (AHDAF)
(dari sasaran utama ke juz’iyah /sektoral).
Sasaran utama : Menegakkan agama Allah di bumi dengan mendirikan daulah islamiyah dan menyampaikan islam ke seluruh penjuru dunia.
Bentuk penyimpangannya :
a.       Pemisahan sasaran.
Pembatasan dakwah hanya pada masalah masalah ibadah, dzikir, ilmu pengetahuan/ amalan lain tapi meninggalkan persoalan tasyri’ (perundang-undangan), pemerintahan, jihad, menegakkan negara islam,dll.
Motivasi tindakannya : biasanya untuk keselamatan diri/menghindaripenyiksaan.
b.      Pembatasan negara
Yakni membatasi penegakan daulah islamiyah pada satu negara saja tanpa memikirkan atau berusaha bekerjasama dengan negara lslam sedunia.
c.       Hanya untuk kekuasaan
Sasaran perjuangan hanya sekedar menduduki pemerintahan.
Akibatnya: Melakukan lompatan-lompatan dan pelanggaran terhadap garis islam yang benar mengenai sistemdan sarana.
d.      Pemerintahan islam yang parsial.
Yakni puas dengan berdirinya satu departemen yang mengurusi masalah Islam tanpa menegakkan pemerintahan Islam secara total.

PERSOALAN JAMAAH DAN KOMITMENT (ILTIZAM)
Sasaran besar dakwah hanya bisa dicapai dengan jamaah.
Urgensi jamaah:
Mengorganisasikan seluruh potensi yang ada, menggariskan langkah perjuangan, mempersiapkan sarana dan fasilitas.
Kaidah usul fiqh :
“Suatu kewajiban jika tidak sempurna kewajiban itu kecuali dengannya maka ia menjadi wajib”
Maka berjamaah adalah kewajiban. Untuk melaksanakan kewajiban itu,maka Hasan Al bana mendirikan jamaah Ikhwanul muslimin, dan sebagai upaya mewujudkan ahdaf Islam.
Jamaah ada jika :
a.       Ada qiyadah (kepemimpinan).
b.      Qiyadah ada jika ada hak didengar dan ditaati para anggotanya.
c.       Keteraturan anggota ada jika ada ikatan –ikatan dan komitment yang wajib ditaati dan dilaksanakan.